Archives

  • Metamorfosis
    Vol. 10 No. 2 (2022)

    EDITORIAL

    Masih dalam kondisi Covid-19 yang belum reda sepenuhnya,  edisi Jurnal SENI RUPA WARNA FSRD IKJ Volume 10, Nomor 2 tahun 2022, kembali menghadirkan tema yang kontekstual dengan kondisi yaitu Metamorfosis. Metamorfosis memiliki makna,  perubahan bentuk atau susunan; peralihan,  dalam konteks ini perkembangan seni rupa  secara organik bermetamorfosis. Perubahan  yang terjadi bukan semata pada gagasan berkarya namun juga, proses berkesenian yang serampak terhadap karya-karya yang diciptakan baik seniman individu dan kelompok individu.

    Spirit metamorfosis dapat kita baca pada beberapa artikel  misalnya tulisan Asep Topan,  mengangkat proses berkesenian seniman yang dipengaruhi perubahan sosial seperti  Pendidikan barat dan, jaringan internasional. Hasil kajian menunjukkan hasil kajian bahwa faktor  hingga bidang kesenian lain, ikut memberikan pengaruh yang kuat dalam proses karya seniman Indonesia, perubahan tersebut semakin kuat terjadi pada abad ini. Hasil kajian Nicholas Wila Adi Pratama, Perubahan juga Bentuk Perubahan Dan Peralihan Pada Karya Seni Miniatur Truk, menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital dewasa ini berdampak terhadap proses kreativitas komunitas bak truk melalui perubahan signifikan dari analog menuju virtual, dengan berbagai pilihan  platform media sosial.  Sementara artikel, Studi Karya Seni Patung Found Object Dan Isu Konsumtif pada Masa Pandemi, menunjukkan bahwa terjadi proses penciptaan karya seni patung, khususnya melalui kesadaran dalam pemilihan material limbah kemasan produk industri, plastik.  Penggunaan  masker sekali pakai pada karya patung found object sebagai simbol tindak konsumtif yang menghasilkan banyak sampah kemasan.

    Perubahan dalam representasi karya seni juga menjadi penanda zamannya, hal tersebut terbaca pada artikel Ades Adrian Firmansyah,  Paduan Suara Digital Dalam Disain Thinking. Hasil kajian menunjukkan bahwa situasi pandemi membawa perubahan signifikan, dalam pertunjukan Konser dari analog menuju virtual.  Virtual choir atau paduan suara digital merupakan salah satu perubahan pada masa new normal in, dimana teknologi digital memegang peranan penting. Teknologi digital memainkan peran penting dalam gaya hidup pada era pandemi tersebut.

    Dalam seni Kriya juga terdapat perubahan yang cukup signifikan baik dalam hal tata Kelola pemberdayaan masyarakat dan karya-karya inovatif lainnya, misalnya melalui kajian Lusiana Limono, Praktik Kriya Tekstil Rumahan Pada Perempuan Masyarakat Urban. Tulisan ini mengkritisi perubahan praktik kriya tekstil rumahan yang dilakukan perempuan urban di masa kini, terutama terkait disrupsi digital dan pandemi. Melalui riset terhadap kelompok pelajar SD hingga mahasiswa, komunitas perca di kota Malang, memperlihatkan adanya transformasi pada praktik kriya tekstil rumahan yang dilakukan masyarakat urban, khususnya perempuan pelaku kriya tekstil rumahan. Transformasi terkait dengan metode dan kualitas atau nilai yang dianggap penting bagi pelaku kriya tekstil rumahan. Metamorfosis juga terjadi pada penciptaan blangkon Yogyakarta, melalui artikel Metamorfosis Visual: Kajian Transformatif Blangkon Gaya Yogyakarta Berbasis Aplikasi Motif Batik . Hasil kajian menunjukkan terdapat perubahan dalam penciptaan karya Blangkon Yogyakarta  melalui eksplorasi motif-motif batik yang diterapkan pada blangkon khas dari keraton Yogyakarta.

  • Liminalitas Dalam Seni
    Vol. 10 No. 1 (2022)

    EDITORIAL

    Mengawali tahun 2022, Jurnal Seni Rupa WARNA FSRD IKJ, Vol 10, No 1 tahun 2022,  kembali hadir ditengah situasi Pandemi yang masih membayangi,  melalui tema Liminalitas. Kata liminalitas berasal dari bahasa Latin “limen” yang artinya “ambang”, pada prosesi ritual, satu kondisi ambiguitas, yaitu berada pada ambang transisi dari kondisi sebelumnya menuju tahapan berikutnya. Penggunaan istilah ini kemudian meluas untuk menggambarkan dinamika sosial, politik dan budaya termasuk didalamnya Seni Rupa. Dalam konteks situasi bangsa Indonesia di masa Pandemi ini, terdapat perubahan yang sangat fundamental, dimana tatanan sosial seolah dijungkirbalikan, sungguh fenomena yang tak terbayang sebelumnya. “Ambang batas” dari situasi Pandemi menuju “new normal”, menjadi spirit artikel ilmiah pada JSRW kali ini. Berbagai pendekatan kajian ilmiah dari disiplin seni rupa, mulai dari Seni Murni, Desain Komunikasi Visual, Desain Mode Busana hingga lintas disiplin yaitu Seni Pertunjukan Teater menjadi kekuatan pada volume  JSRW kali ini.

    Pada situasi Liminalitas menuju new normal dimana perekonomian sempat melemah, justru kreativitas menjadi kunci utama hal tersebut terbaca pada hasil riset tentang Strategi Kampanye Komersial dan Aplikasi motif dengan teknik ecoprint pada tas wanita berbahan kulit. Hasil kajian menunjukkan bahwa melalui strategi kampanye yang kreatif dengan menampilkan ikon grup musik idola asal Korea Selatan yang tengah populer BTS (Bangtan Sonyeodan)  menunjukan peningkatan yang signifikan, sementara melalui kajian  teknik ecoprint sebagai bahan pembuatan tas wanita di Yogyakarta,  merupakan peluang usaha yang menarik dan kompetitif.  Begitu pula kajian rancangan desain buku Coffee Table Book: Landmark di Kota Jakarta, menunjukkan bahwa melalui pemilihan objek dan artefak tentang kota Jakarta yang dirancang dengan pendekatan nilai-nilai estetika dapat memperkuat identitas Kota Jakarta.

    Sementara melalui kajian berbasis seni murni yaitu Pembacaan Ulang Karya Paul abad ke-15, menunjukan bahwa lukisan Samson dan  Delilah mampu merepresentasikan kondisi transendensi antara realitas dan mitos dalam konteks liminalitas dalam seni. Pada kajian interdisiplin seni rupa yaitu Pertunjukan Teater Koma : “J.J Sampah-Sampah Kota” (2019), menunjukan hasil bahwa peran teknologi multimedia menjadi sangat penting dalam proses kreativitas pembentukan karakter tokoh pemain teater.  Melalui sinergitas antara  make up dan cahaya, didukung diskusi intensif antara make up artist dengan sutradara dan art director,  menjadi faktor penting dalam keberhasilan pertunjukan teater kontemporer.

    Melalui berbagai kajian dalam disiplin seni rupa, kita dapat mengkritisi bahwa situasi liminalitas dalam seni, justru menciptakan peluang kreativitas yang lebih dinamis dan inovatif sehingga berdampak terhadap perekonomian bangsa. Kondisi menunjukkan bahwa kreativitas tak pernah “melemah” meskipun berada pada titik “terendah” yaitu pada situasi pandemi menuju new normal. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbanding lurus dengan nila-nilai kreativitas juga menjadi salah satu hasil kajian yang penting dicatat pada jurnal Seni Rupa WARNA edisi kali ini.

  • Seni, Pandemi dan Kreativitas
    Vol. 9 No. 2 (2021)

    EDITORIAL 

    “Seniman lebih melihat apa yang ia lukis, ketimbang melukis yang ia lihat,”, demikian Sejarawan Seni  E.H. Gombrich (1909-2001) pernah menuliskan. Pandangan ini memiliki makna bahwa sesungguhnya ketika seorang seniman berkarya, bukan lagi menekankan pada konsep mimesis melainkan representasi. Representasi dalam konteks ini  merujuk pada pemahaman bahwa seniman memiliki pola-pola dan tema tertentu sejalan dengan konvensi zamannya. Dalam konteks perubahan sosial yang terjadi sebagai dampak dari Pandemi Covid 19 di era 2020-an ini, terdapat fenomena menarik dalam perkembangan seni rupa. Perkembangan tersebut bukan hanya terdapat pada ide/gagasan/konsep berkarya, namun juga pemilihan tema dan medium yang digunakan seniman dalam berkarya.

    Menghadapi Pandemi Covid 19, Jurnal Seni Rupa Warna (JSRW) pada volume 9 No. 2, 2021, kali ini sengaja mengangkat tema Pandemi, Seni dan Kreativitas, sebagai upaya merespon perubahan sosial yang tengah terjadi dengan spirit representasi yang dituliskan E.H Gombrich. Kita melihat bagaimana Pandemi Covid 19 telah mengubah semua tatanan kehidupan secara drastis, baik dalam  hal pola pikir, perilaku, tindakan dan cara kerja , tak terkecuali didalamnya bidang seni rupa. Sejak Pandemi diumumkan secara resmi oleh Pemerintah pada April 2019,  sebagai bencana kemanusiaan yang bersifat global, maka terjadi perubahan dalam aktivitas dan aktivisme seni di Indonesia.

    Beberapa perubahan tersebut tak dapat dipisahkan dari peran ekosistem seni, baik lembaga kebudayaan (Museum dan Galeri Seni), Institusi Pendidikan, seniman individu/komunitas seni, Media, Kolektor, masyarakat dan pihak terkait lainnya. Beberapa artikel pada Jurnal ini mencoba merespon fenomena tersebut melalui kajian beberapa peristiwa seni rupa baik berupa pameran, penciptaan karya seni, rancangan desain dan monument.

    Misalnya melalui artikel, Dampak Pandemi Covid-19 Mengubah Konsep Tata Letak Furnitur Desain Interior Ruang Belajar di Perguruan Tinggi dan Masker Sebagai Budaya Baru Trend Fashion di Indonesia, hasil kajian menunjukkan terdapat perubahan signifikan dalam konsep rancangan desain interior khususnya di masa Pandemi. Pada artikel lain yaitu Strategi Museum Seni di masa Pandemi Covid 19: Kajian Pameran Imersif Affandi, terlihat jelas bagaimana kebijakan lembaga kebudayaan negara yaitu Galeri Nasional Indonesia menyikapi Pandemi Covid 19 melalui kebijakan pameran berbasis digital art khususnya karya Video Mapping sehingga mudah diakses publik. Sementara melalui kajian Imajinasi Pandemi: Bayang-bayang Visual pada Tiga Karya Perupa Kalimantan menunjukkan hasil penelitian para perupa Kalimantan dalam merespons kondisi sosial yang tengah terjadi, baik secara langsung membuat karya bertema pandemi, maupun tidak langsung dengan tetap produktif berkarya dalam suasana pandemi. Upaya kreatif mereka dengan demikian berkontribusi terhadap bentuk respons kreatif di masa Pandemi dan tampilan yang menguatkan identitas seni rupa Indonesia mutakhir.

    Sementara melalui  Kajian Psikobiografi Seniman Dan Aspek Dekonstruksi Dalam Karya Rupa: Telaah Atas Karya Dan Kehidupan Christine Ay Tjoe, Angki Purbandono, Dan Ugo Untoro, peneliti mencoba melakukan kajian melalui pendekatan  dekonstruksi yang dilakukan terhadap dua aspek yaitu aspek internalisasi (dekonstruksi diri) dan eksternalitas (dekonstruksi karya rupa).  Sementara artikel Tugu Talas Bogor: WC Umum Rahasia di Jalan Merdeka, mengangkat fenomena karya seni rupa ruang publik, dimana hasil kajian memiliki  pemikiran kritis yang dapat dijadikan bahan referensi sekaligus evaluasi kebijakan pemerintah daerah terkait.

    Spirit Representasi dalam konteks pemilihan artikel berbasis kajian seni rupa pada JSRW edisi kali ini, dapat dimaknai bagaimana peristiwa  seni rupa mewakili spirit zamannya. Beberapa karya seniman dan peristiwa seni rupa sebagai bahan kajian, bukan sekedar menampilkan ‘apa yang dilihat pada situasi dan kondisi Pandemi Covid 19”, namun bagaimana merasakan, memaknai, merenungkan lalu menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dari “sisi lain” yaitu berbagai upaya-upaya kreatif dan inovatif yang dapat meningkatkan harkat kehidupan berbasis kreativitas dan nilai-nilai kesenian.

    Edisi JSRW kali ini juga bertepatan dengan Ulang Tahun IKJ ke 51, yang jatuh pada bulan Juni 2021. Sebagai Perguruan Tinggi Seni dengan spirit interdisiplin yang lahir pada era 1970-an, eksistensi IKJ saat ini juga tak lepas dari berbagai tantangan dalam berbagai bidang. Berbagai karya seni dan kajian yang terus tercipta dan berkesinambungan,  baik dari  alumni, dosen dan mahasiswa merupakan bentuk “kebertahanan” IKJ ditengah era Pandemi Covid 19 abad ini.

  • Perubahan Sosial dan Ekspresi Seni
    Vol. 9 No. 1 (2021)

    EDITORIAL

    Perkembangan Seni Rupa tak dapat dipisahkan dari dinamika dan perubahan sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan agama yang tengah terjadi pada satu bangsa. Begitupula yang terjadi pada bangsa Indonesia, terdapat “simpul-simpul” dalam memaknai seni rupa Indonesia yang dikaitkan dengan berbagai peristiwa penting baik yang terjadi sebelum dan sesudah kemerdekaan. 

    Pada edisi ini, JSRW mencoba menampilkan beberapa tulisan yang terinspirasi dari berbagai dinamika dan perubahan sosial dalam konteks penciptaan karya seni. Dinamika dan Perubahan sosial merupakan hal yang tak terpisahkan, karena terjadi akibat adanya interaksi dan hubungan antara individu dan kelompok individu dalam satu masyarakat yang berdampak terhadap perubahan, seperti pergeseran nilai-nilai, norma, aturan, perilaku organisasi, struktur kelembagaan, hingga kekuasaan dan perubahan sosial lainnya. Perubahan sosial dapat bersifat positif jika terjadi peningkatan kualitas dari berbagai aspek. Namun demikian, tak jarang pula perubahan sosial justru bersifat negatif, dalam bentuk kemunduran peradaban, hingga berujung pada kehancuran. Mekanisme perubahan sosial dapat dilihat dari dua hal, yaitu perubahan sosial yang disengaja atau dikehendaki atau direncanakan (planned change​) dan ada juga perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan atau tidak di sengaja (unplaned change​ ​). 

    Salah satu contoh dari planned change​, diwakilkan melalui dua artikel yaitu (1) “Pengaruh Pembentukkan Ruang Publik Bernuansa Agama pada Alih Fungsi Gedung Bouwploeg Menteng” oleh Anindyo Widito. Gedung Bouwploeg Menteng atau yang saat ini dikenal sebagai Masjid Cut Meutia. Gedung peninggalan kolonial Belanda, dalam sejarahnya Gedung ini beberapa kali mengalami perubahan fungsi dimana peran kelompok individu memegang peranan penting, antara lain kelompok pengajian Menteng dan Yonif Yos Sudarso, (2) “Identitas dan Material Culture Kelas Pekerja pada Situs De Tjolomadoe”,​ oleh Ade Ariyani Sari FajarwatidanYuke Ardhiati. Situs De Tjolomadoe merupakan konservasi untuk menjaga kelestarian bekas pabrik gula Colomadu dan telah berubah fungsi menjadi pusat pariwisata. Sementara Peran kelompok individu dalam Keberlangsungan dalam “​Praktik Budaya yaitu Pasar Malam Komidi Puter di Peri-Urban Jabodetabek​ ​, dapat disimak pada tulisan Fabianus Hiapianto Kusumadinata. Keterlibatan pihak formal dan informal menjadi hal penting dalam kajian ini, karena menunjukkan bagaimana kontinuinitas praktik budaya pada satu masyarakat dapat terjadi dengan baik.

    Selain kajian tentang seni budaya masa silam dalam konteks perubahan sosial, edisi ini juga memuat tulisan tentang perkembangan seni era kekinian, yaitu “Analisis Minat Belajar Mahasiswa Melalui Perkembangan Fashion dan Revolusi Industri 4.0 dalam Mata Kuliah Teknik Menjahit Mahasiswa Desain Produk FSR IKJ 2018/2019”,​ Retno Andri Pamudyarini, serta “Eksplorasi Kayu Strip Menggunakan Teknik Laminasi dan Bending”,​ oeh Zamilia dan Ista Rizki. Peran individu dalam hal ini perupa, juga sangat penting dalam memaknai perubahan, yang terlihat pada artikel “Membaca Seni Semsar Siahaan sebagai Seni Rupa Pembebasan”,​ Feri Agustian Sukarno. Sebagai perupa yang hidup dan berkarya di era Orde Baru, berbagai gejolak sosial politik mempengaruhi ideologi Semsar dalam berkarya.

    Melalui beberapa kajian pada edisi ini kita dapat memahami bagaimana perubahan sosial menjadi bagian penting dalam penciptaan karya seni, dengan spirit zaman yang berbeda dari satu periode ke periode lainnya. Terdapat pasang surut kebijakan dan kepentingan dalam mengkaji perkembangan seni rupa sejak masa Kolonial, Pascakolonial hingga Revolusi Industri 4.0​, dimana peristiwa seni budaya yang terjadi tak lepas dari peran dan tokoh baik seniman, institusi budaya, media, komunitas seni, dan masyarakat itu sendiri. Melalui karya-karya seni yang diciptakan terdapat nilai-nilai edukasi, estetis dan historis, yang sangat berharga dalam membangun peradaban yang lebih baik dan berkualitas di masa mendatang.

  • Urban, Sejarah dan Kebudayaan (di) Indonesia
    Vol. 8 No. 2 (2020)

    EDITORIAL

    Paham sejarah dan khususnya paham kebudayaan (di) Indonesia masih menjadi permasalahan penting. Bukan hanya bagi siswa Sekolah Dasar, bagi kita yang sudah dewasa pun akan menjumpai banyak kebingungan. Apa yang dimaksud dengan kebudayaan Indonesia? Apakah hanya kebudayaan yang berakar dari etnis yang ada di Indonesia? Ataukah kebudayaan yang baru muncul setelah tradisi daerah ditinggalkan, termasuk budaya Indonesia sendiri? Akhirnya, dari kekuatiran akan timbulnya makna-makna lain, saya coba menggunakan "(di)" sebelum "Indonesia". Kuatir akan menimbulkan pemaknaan yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh Jurnal Seni Rupa Warna​ ​ kali ini. 

    Sementara itu, setelah kawasan eks jajahan Belanda menjadi negara Indonesia, perdebatan tentang kebudayaan Indonesia, atau kebudayaan nasional semakin sering diperbincangkan. Perdebatan klasik terjadi pada 1930-an, yang disebut sebagai Polemik Kebudayaan, yang terakumulasi: Perdebatan apakah Indonesia modern merupakan sesuatu yang menjadi kelanjutan dari masa sebelumnya, yang berisi keberagaman tradisi-tradisi etnis di kawasan Indonesia? Atau justru sama sekali sebagai suatu kebudayaan baru yang dimulai dari awal? Polemik tersebut dibukukan oleh Achdiat​ Karta Mihardja dari tulisan-tulisan Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan Poerbatjaraka. Hingga sekarang, substansi perdebatan itu masih menjadi titik tolak ketika berbicara mengenai kebudayaan.

    Bagi Redaksi, kebudayaan dilihat sebagai sesuatu yang dipercaya dan dilakukan masyarakat. Untuk memahami masyarakat, kita pelajari produk, kegiatan, komunikasi, kesenian, dan lain-lain baik yang berasal dari kebudayaan etnis maupun suatu "karya baru": sintesa budaya-budaya, dari kebutuhan dan perkembangan masyarakat, dari dalam dan luar negeri, hasil adopsi dan lain sebagainya. Selain memahami proses penciptaan suatu karya seni saat ini, studi sejarah kesenian di masa lalu merupakan salah satu upaya memahami perjalanan kesenian di Indonesia. Bahkan, seringkali kesenian dan konsep kesenian yang ada sekarang tidak terlalu jauh dari yang lalu.

    Jurnal Seni Rupa Warna kali ini menyajikan tulisan terkait Sejarah dan Kebudayaan yang amat beragam. Adapun bahasannya meliputi usaha memahami sejarah, menguraikan proses-proses penciptaan karya dengan mentransformasikan konten-konten masa lalu agar relevan bagi masyarakat sekarang, penelitian tentang produk seni yang mengambil posisi antara, yaitu di perbatasan tradisi dan global. Pada intinya semua bertujuan dapat memberikan pemahaman dan adanya upaya menyebarkan sejarah dan kebudayaan Indonesia. 

    Sejarah tentang Propaganda Jepang melalui Kulit Muka Majalah Djawa Baroe ditulis oleh Shafaat Rouzel Waworuntu dan Indah Tjahjawulan. Penelitian ini mengambil objek literasi majalah Djawa Baroe untuk mengetahui apakah agenda Jepang dapat terepresentasikan melalui kulit muka tersebut. Selanjutnya, penelitian Nita Trismaya mencoba menafsir ulang Pemakaian Sneakers​ dalam Berkain-kebaya. Sneakers​ menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban untuk berbagai kegiatan. Permasalahan ini dianalisis menggunakan teori transformasi budaya untuk menafsir ulang sneakers​ yang kini menjadi bagian dari identitas ke-Indonesia-an melalui berkain-kebaya. Tulisan berikutnya, yaitu proses perancangan dan konsep tentang perancangan animasi, mengalih-wahanakan epik ​La Galigo, ditulis oleh Andi Annisa Amalia Marlina, Ehwan Kurniawan, dan Norman Adhy Maulana. Karya tersebut bertujuan untuk mengenalkan La Galigo kepada masyarakat luas. Selanjutnya, Inas Savero, Saut Irianto Manik, dan Kendra Paramita menuliskan bagaimana proses perancangan buku ilustrasi sejarah band ‘Jakarta Grunge’. Karya yang dibahas dalam tulisan ini memperkenalkan salah satu bagian dari sejarah musik Indonesia yang belum dikenal luas. Dalam kajian mengenai mode berbusana ada tulisan tentang Urban Dynamic: Inspirasi Kemacetan Tanah Abang Jakarta, oleh Iqbal Maulana, Retno Andri Pramudyawardani, dan Yanni Rosalin. Situasi Pusat Perbelanjaan Tanah Abang memberikan ide tersendiri dalam membuat koleksi busana. Bagaimana implementasi dari suasana kemacetan yang terjadi di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, ke dalam koleksi busana. Muhammad Iqbal Firdaus, Cecil Mariani, dan Adityayoga melalui Perancangan Huruf dan Media Pembelajaran Aksara Sunda, menjelaskan proses perancangan aksara Sunda dalam bentuk digital. Tujuannya agar pembelajaran aksara Sunda di sekolah lebih efektif dan menarik bagi siswa. 

     

  • Seni dan Revolusi Industri 4.0
    Vol. 8 No. 1 (2020)

    EDITORIAL

    Seni, termasuk Desain, tidak dapat menolak dampak perkembangan teknologi. Tidak hanya pengaruh pada perubahan media atau moda penyebarannya. Sebab baik bagi para kreator, perupa, juga perancang harus memikirkan strategi dan konsep dalam menyikapi cara juga gaya kehidupan masyarakat saat ini. Seni, sebagai wujud ekspresi dan penerapan imajinasi dan keterampilan manusia yang biasanya berupa tanggapan atas permasalahan kehidupan, harus dibuat melalui strategi yang berbeda. Memahami gaya hidup serta proses komunikasi dan media baru menjadi aspek penting agar ekspresi kita menjadi “Ada”. Perlu adanya pendekatan kepada masyarakat oleh pelaku seni agar ekspresi para seniman lebur menjadi bagian dari hidup mereka. Saat ini teknologi digital dan dalam jaringan memberi banyak ruang disrupsi dalam kehidupan. Secara sadar atau tidak perubahan telah berlangsung. Para seniman dan perancang pun mulai beradaptasi. Enam tulisan hasil penelitian rekan-rekan peneliti berikut ini menangkap fenomena perkembangan yang saat ini disebut sebagai era revolusi industri 4.0. Revolusi industri keempat ini beranjak dari teknologi komputer dan otomasi yang berkembang di Revolusi Industri ketiga dan meningkatkannya melalui rancangan sistem yang cerdas dan terkendali yang didukung oleh data dan mesin yang cerdas. Adapun artikel dalam terbitan Volume 8  Nomor 1, ini membahas signifikansi aspek teknologi dalam karya-karya seni dan desain.​              

    Pertama, penelitian Bobby​ Satya Ramadhan​ dan​ Rasuardie,​ “Kajian​ Komik Daring Indonesia, Studi Kasus: Komik Tahilalats”​. Artikel ini membahas mengenai Komik Tahilalats, ​salah satu komik yang sekarang beredar di media daring. Komik Tahilalats menjadi objek penelitian berdasarkan tinjauan mengenai industri komik daring di Indonesia menggunakan media digital berbasis web​ ​. Kajian ini disusun untuk membahas bagaimana Komik Tahilalats menjadi populer dan bagaimana perkembangannya di dalam industri komik. Carolline​ Mellania dan Indah​ Tjahjawulan menulis hasil penelitian mereka tentang aplikasi "Pencarian Jodoh Daring Masyarakat Urban Indonesia-Studi Kasus: Aplikasi Tinder dan OKCupid". Walaupun terdapat isu tentang nilai-nilai budaya ketimuran Indonesia yang menjadi samar di tengah budaya global, aplikasi kencan online ​Tinder dan OkCupid berperan sebagai regulator yang menghadirkan ruang negosiasi yang masih dianggap tabu dalam nilai dan norma di kehidupan masyarakat Indonesia. Dita​ Rachma Sari dan Shuri​ Mariasih Gietty Tambunan menulis tentang proses “Representasi Brand Activation Ruangguru Periode 2018-2019”. Ruangguru berhasil mengonstruksi brand​ dalam benak konsumen sebagai pembelajaran personal dan mandiri, online melalui teknologi digital yang memiliki fleksibilitas dan aksesibilitas, trendy dan hip!,​ namun sekaligus membangun eksklusivitas, kapitalis, dan kebebasan semu. Hardianto Eka Dewantara, Ehwan Kurniawan, dan Ades Adrian Firmansyah menguraikan​ proses “Perancangan Aplikasi Interaktif Kamar Diponegoro", yang menjadi salah satu bagian dari Museum Sejarah Jakarta. Aplikasi tur museum ini memanfaatkan teknologi Augmented Reality untuk memberikan pengalaman belajar yang berguna bagi para pelajar dan mahasiswa. Pingkan​ Nafasha Jan,​ Teuku​ Syahnureza, dan Dita​ Rachma Sari menyusun tulisan mengenai “Perancangan Website​ ​Puskesmas Jakarta sebagai Sumber Informasi Masyarakat”. Karya ini berangkat dari satu kesadaran bahwa pelayanan kesehatan masyarakat di era digital sekarang ini harus sepenuhnya didukung oleh layanan kesehatan daring. Media daring ini yang selanjutnya memberikan informasi tentang Puskesmas di Indonesia kepada masyarakat luas. Artikel terakhir disajikan oleh Yana​ Erlyana menguraikan proses “Perancangan Instalasi Seni Metafora “Morning Breeze​” dalam Mixed Media”. ​Kombinasi media-media tersebut membuat instalasi menjadi lebih menarik dan mendorong minat penonton melakukan tindakan tak terduga. 

    Semua artikel yang tersaji dalam terbitan nomor ini mewakili tema terpilih yang mengangkat inti masalah mengenai seni dan revolusi industri 4.0. Kebaruan-kebaruan dan temuan para penulis, khususnya di bidang seni dan desain yang berbasis teknologi ini, patut dirayakan bersama dalam menyambut era 4.0.

     

  • Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
    Vol. 7 No. 2 (2019)

    EDITORIAL

    Jurnal Seni Rupa Warna edisi kali ini mengangkat tema "Ruang" dalam konteks perkotaan. Kota        besar berkembang mengikuti dinamika budaya dan pemikiran masyarakat. Ruang-ruang di kota diciptakan,  atau digeser fungsinya. Ada  yang bertahan, ada juga yang bergeser atau bertambah.  Banyak  aspek yang menentukan pembentukan atau penghilangan ruang-ruang tersebut. Saat ini, misalnya, kawasan Cikini, Jakarta dan sekitarnya sedang   mengalami perombakan jalan dengan   dibangunnya  trotoar   yang lebih besar dari sebelumnya. Kondisi tersebut tentunya didasari  oleh        suatu persepsi tertentu dari pemerintah daerah   tentang  kelayakan ruang kota. Kita juga mencatat bagaimana perlakuan masyarakat yang "tidak sesuai"   terhadap ruang-ruang di stasiun dan fasilitas   didalam gerbong MRT saat mereka  baru saja  berhadapan dengan ruang baru tersebut. Di sisi lain,         masyarakat pengguna fasilitas perlu mengubah perilaku atas perubahan tersebut. Penyesuaian         tersebut akan membutuhan waktu. Selama fungsi kendali berjalan longgar, pada akhirnya, masyarakat jugalah   yang akan memaknai  secara bebas ruang-ruang  yang  sudahdisediakan. Apapun  itu,dinamika  interaksi masyarakat  dengan   ruang kota merupakan ajang  tawar-menawar pemaknaan yang terus terjadi. Aspek Seni dan Desain, sedikit banyaknya akan turut mengarahkan pemaknaan publik atas ruang-ruang tersebut.               

    Tulisan dari  Adityayoga  dan Indah Tjahyawulan Penyajian Koleksi Museum Sejarah dan Budaya  Kota Malang, Studi Kasus: Museum Brawijaya, Museum Purwa  dan Museum Panji, membahas tentang museum-museum di kota Malang,  kota yang memiliki banyak museum. Tulisan tersebut membahas 3 museum dengan pertanyaan yang mengaitkan tujuan museum, narasi, kondisi tata  pamer,dan aspek representasi. Juga tentang museum, Pemaknaan Tata Ruang Interior Museum Kebangkitan Nasional Jakarta,  tulisan Ika Yuni Purnama membahas tentang  bagaimana historiografi diwujudkan ke dalam museum Kebangkitan Nasional di  Jakarta. Dari ruang tertutup seperti museum itu, kita dibawa ke            ruang yang merupakan perlintasan lebih banyak lagi manusia. Tulisan Moelyono Rahardjo Perkembangan     Signage  Statis Permanen di Halte Transjakarta: Halte Transfer  Grogol 1 - Grogol 2.  Moelyono fokus pada aspek signage  yang berperanan dalam mengatur lalu lalangnya manusia di halte dan dia menemukan ketidaksesuaian konsep dasar signage  dengan fakta di lapangan. Ardianti  Permata Ayu dan Lily Wijayanti  membahas  perkembangan ruang  dikota yang sangat  mutakhir yaitu       keberadaan ruang-ruang co-working,  yang mulai menggantikan kantor mapan. Dinamika                pembentukan ruang-ruang tersebut merupakan hasil dari suatu perjalanan panjang sejak kota-kota mulai didirikan di masa kolonial oleh  Belanda. Satu kawasan lama di Jakarta yaitu Cikini dan         Gondangdia, bagian dari   Menteng, berawal dari pembangunan perumahan elite Belanda  di             Batavia.  Sebelumnya di dekat sana pernah tinggal seorang  seniman besar  Indonesia yang turut  mengembangkan kawasan, menciptakan rumah dengan taman yang besar, dengan kebun                binatang. Pernah menjadi  kebun binatang pemerintah daerah,  sekarang menjadi Taman Ismail Marzuki  dan Rumah Sakit PGI. Sudut pandang ini dibahas  oleh Sonya Sondakh dan Iwan Gunawan yang  meneliti tentang kawasan CIKAGO (Cikini-Kalipasir-Gondangdia) dalam tulisan Gentrifikasi dan Kota: Kasus Kawasan Cikini-Kalipasir-Gondangdia, sebagai   pungkasan  tulisan-tulisan yang membahas tentang ruang dalam terbitan  kali ini.

     

  • Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
    Vol. 7 No. 1 (2019)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.

  • Seni dan Transformasi
    Vol. 6 No. 2 (2018)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.

  • Di antara Ekspresi, Komunikasi, dan Fungsi
    Vol. 6 No. 1 (2018)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.

  • Media, Kebudayaan dan Identitas
    Vol. 5 No. 2 (2017)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.

  • Eksplorasi Keragaman Media Seni
    Vol. 5 No. 1 (2017)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.

  • Membaca Modernitas
    Vol. 4 No. 2 (2015)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.

  • Lintas Batas Ekspresi Seni
    Vol. 4 No. 1 (2015)

    JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) diterbitkan oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta dua kali setahun, bulan Januari dan Juli. Dikelola oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Asosiasi Desain Grafis Indonesia (Adgi), Forum Kriya Kontemporer Indonesia (FKKI), Indonesian Fashion Chamber (IFC). JSRW (JURNAL SENIRUPA WARNA) berisi tulisan yang merupakan artikel konseptual dan artikel hasil penelitian di bidang seni rupa dan desain, serta artikel telaah (review) yang dimuat atas undangan.